{"id":2770,"date":"2020-06-22T02:15:28","date_gmt":"2020-06-22T02:15:28","guid":{"rendered":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/?p=2770"},"modified":"2023-06-12T14:58:04","modified_gmt":"2023-06-12T14:58:04","slug":"7-langkah-awal-menjadi-seorang-ui-ux-designer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/7-langkah-awal-menjadi-seorang-ui-ux-designer\/","title":{"rendered":"7 Langkah Awal Menjadi Seorang UI UX Designer"},"content":{"rendered":"<p>Kata UI UX pasti sering kamu dengar, apalagi ketika kamu membuka portal lowongan pekerjaan. Maraknya permintaan profesi\u00a0<i>trending<\/i>\u00a0dibidang UI UX\u00a0 menjadikanmu terpacu untuk belajar bagaimana menjadi UI UX\u00a0<em>D<\/em><i>esigner<\/i>. Meskipun keduanya dijadikan satu posisi, pada nyatanya UI dan UX design itu merupakan\u00a0 2 pekerjaan yang berbeda dalam lingkup yang sama.<\/p>\n<p>Menjadi UI UX\u00a0<i>designer<\/i>\u00a0tidak selalu harus menempuh pendidikan bidang tertentu. Asal didalami niat dan tekun pasti kamu bisa untuk memulai karir sebagai UI UX\u00a0<em>D<\/em><i>esigner.<\/i><\/p>\n<p>Quotes bagi para calon UI UX\u00a0<em>D<\/em><i>esigner<\/i><\/p>\n<blockquote>\n<h3>\u201cSetiap cerita yang baik akan menghasilkan desain yang bahkan lebih baik lagi\u201d.<\/h3>\n<\/blockquote>\n<p style=\"text-align: right;\">(Lorinda Mamo)<\/p>\n<p><i><\/i>Yuk, simak penjelasan di bawah ini terkait 7 langkah menjadi UI UX Designer.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2>1.Mengenal Apa Itu UI dan UX Design<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-11211\" src=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Internship-Rendi-Juliarto-UIUX.png\" sizes=\"auto, (max-width: 343px) 100vw, 343px\" srcset=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Internship-Rendi-Juliarto-UIUX.png 626w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Internship-Rendi-Juliarto-UIUX-150x150.png 150w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Internship-Rendi-Juliarto-UIUX-300x300.png 300w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/Internship-Rendi-Juliarto-UIUX-370x370.png 370w\" alt=\"Animasi UI UX\" width=\"343\" height=\"343\" \/><\/p>\n<p>Langkah awal yang harus kamu pahami adalah UI kependekkan dari\u00a0<i>User Interface<\/i>. UI mencakup aspek visual yang ditampilkan pada website maupun aplikasi mobile\u00a0seperti menu, tulisan, tata letak, tombol, warna hingga tipografi.<\/p>\n<p><em>UI Designer<\/em>\u00a0diharapkan mampu membuat tampilan (<i>interface<\/i>) yang mudah digunakan oleh pengguna atau kita kenal dengan\u00a0<i>(user friendly)<\/i>.\u00a0UI designer juga mencakup perencanaan\u00a0<i>flow u<\/i>ntuk\u00a0pengguna<i>,\u00a0<\/i>serta\u00a0membuat mockup atau prototype. Bagi perusahaan besar\u00a0<em>UI Designer<\/em><i>\u00a0<\/i>diperlukan untuk merancang layout website ataupun aplikasi mobile. Contoh dari UI yaitu\u00a0<i>visual design.<\/i><\/p>\n<p><i>Visual design<\/i>\u00a0sangat<i>\u00a0<\/i>perlu diperhatikan supaya apa? Supaya membuat suatu aplikasi tampak lebih cantik (e<i>ye-catching<\/i>)<\/p>\n<p>Sedangkan UX kependekan dari\u00a0<i>User Experience.\u00a0<\/i>UX designer yaitu seseorang yang bertanggung jawab untuk kepuasaan pengguna (<i>user<\/i>) dan pengalaman yang lebih baik. Contoh ketika menggunakan aplikasi Gojek, jika kamu ingin pergi kesuatu tempat tujuan, maka lokasi penjemputan terisi otomatis berdasarkan dari gps kamu atau fitur User\u2019s GPS.<\/p>\n<p>Jadi UX atau\u00a0<i>User Experience\u00a0<\/i>ini memang\u00a0 tidak kasat mata bagi seseorang yang bukan designer, tetapi bagi seorang designer dapat terlihat bahwa dengan mengisi lokasi secara otomatis dapat menghemat waktu dari sisi pengguna.<\/p>\n<p>Pekerjaan sebagai UX designer adalah mencakup riset bagi pengguna (<i>user<\/i>\u00a0<i>research<\/i>), mendesain hal-hal penting dalam\u00a0<i>user interface<\/i>, mendesain juga\u00a0<i>flow website\u00a0<\/i>atau aplikasi\u00a0<i>mobile<\/i>, serta melakukan testing.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2>2 .Mengetahui Kunci Utama menjadi UI UX Design<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-11416\" src=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-3keys.png\" sizes=\"auto, (max-width: 626px) 100vw, 626px\" srcset=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-3keys.png 626w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-3keys-300x186.png 300w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-3keys-370x230.png 370w\" alt=\"3 keys\" width=\"626\" height=\"389\" \/><\/p>\n<p>Apakah kamu perlu jago\u00a0<i>design<\/i>\u00a0seperti kamu menguasai\u00a0<i>Adobe<\/i>\u00a0<i>photoshop, illustrator,\u00a0<\/i>dan sebagainya? Iya, memang kamu perlu bisa\u00a0<i>design<\/i>\u00a0setidaknya memahami konsep dasar, tapi bagi kamu yang belum memahami banget konsep\u00a0<i>design\u00a0<\/i>tidak perlu khawatir bahwa kamu tidak bisa menjadi seorang UI UX\u00a0<em>D<\/em><i>esigner.<\/i><\/p>\n<p>Oleh karena itu, kamu mesti mengetahui kunci utama UI UX\u00a0<i>design\u00a0<\/i>yang dibagi menjadi 3 bagian diantaranya :<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Problem<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Masalah apa yang terjadi? Sebagai UX\u00a0<i>designer\u00a0<\/i>sendiri justru kita akan mencari suatu masalah, bukan untuk dihindari. Masalah seperti apakah yang dimaksud? Contohnya seperti latar belakang dibuat suatu\u00a0<i>flow\u00a0<\/i>sistem, alat untuk meminimalisir sistem manualisasi yang ada saat ini. Supaya bisa menghasilkan suatu ide ataupun solusi.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Solution<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Bagaimana cara memperbaikinya? Dibuatnya aplikasi sebagai alat, mempunyai tampilan yang menarik, dan mudah digunakan oleh pengguna\u00a0<i>(user friendly)<\/i>.<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Result<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p>Menghasilkan suatu keluaran atau output yang mempermudah pekerjaan pengguna, bukannya malah mempersulit.<\/p>\n<p>Penjelasan diatas merupakan 3 kunci utama dari seorang UI UX\u00a0<i>designer<\/i>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2>3.Mempelajari dan Banyak Berlatih UI UX<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-11417\" src=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-learning.png\" sizes=\"auto, (max-width: 626px) 100vw, 626px\" srcset=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-learning.png 626w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-learning-300x200.png 300w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-learning-370x246.png 370w\" alt=\"learnng\" width=\"626\" height=\"417\" \/><\/p>\n<p>Kamu yang ingin mendalami bidang UI UX harus banyak-banyak latihan baik itu dari segi UI maupun UX. Sehingga, dengan seringnya kamu berlatih, maka akan memperkaya\u00a0<i>skill\u00a0<\/i>mu.<\/p>\n<p>Mulailah sering-sering mencari informasi terkait profesi UI UX. Kamu bisa memulai dari belajar UI yang umumnya lebih mudah terlihat dibandingkan UX. Misalnya membuat konsep desain\u00a0aplikasi\u00a0sederhana menggunakan adobe XD ataupun Figma.<\/p>\n<p>Untuk belajar UX kamu bisa mempelajari dengan cara membaca buku tentang UX. Contoh buku yang direkomendasikan sebagai kitabnya para\u00a0<em>designer<\/em>\u00a0:<\/p>\n<ul>\n<li><strong class=\"iv jh\">The Design of Everyday Things<\/strong>\u00a0(Don Norman).<\/li>\n<li><strong class=\"iv jh\">UX for Lean Startups<\/strong>\u00a0(Laura Klein).<\/li>\n<li><strong class=\"iv jh\">Observing User Experience<\/strong>\u00a0(Elizabeth Goodman, dkk).<\/li>\n<\/ul>\n<p>Selain kamu belajar otodidak adapun cara belajar yang bisa membantumu menjadi seorang UI UX\u00a0<i>designer\u00a0<\/i>yaitu mengikuti kelas\u00a0<i>online,<\/i>\u00a0pelatihan-pelatihan berupa\u00a0<i>workshop,\u00a0<\/i>dan lain sebagainya. Lebih bagusnya jika kamu sering buat project\u00a0untuk dijadikan portfolio.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2>4.Memilih Tools yang Sesuai<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-11418 size-full\" src=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-tools.png\" sizes=\"auto, (max-width: 626px) 100vw, 626px\" srcset=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-tools.png 626w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-tools-300x200.png 300w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-tools-370x246.png 370w\" alt=\"ui ux\" width=\"626\" height=\"417\" \/><\/p>\n<p>Hal ini perlu juga diperhatikan karena dengan memilih tools yang tepat dapat membantu meningkatkan efisiensi waktu kerja. Jika kamu baru memulai belajar UI, maka disarankan menggunakan software penunjang seperti\u00a0<i>Adobe XD<\/i>,\u00a0<i>Figma\u00a0<\/i>tools. Mengapa? Kamu dapat memilih salah satu atau kedua software tersebut karena sudah memiliki standar yang memudahkan proses desain dan dilengkapi dengan proses\u00a0<i>prototyping<\/i>.<\/p>\n<p>Saya pribadi sih bukan endorse (XD ataupun Figma) tapi hanya sekedar berbagi saja, mengenai tools yang mudah untuk dipelajari oleh para calon UI UX design.<\/p>\n<p>Salah satunya banyak juga\u00a0<i>designer\u00a0<\/i>pakai Figma, baca juga :\u00a0<b>Figma, tools yang mempermudah hidup UI Designer<\/b><\/p>\n<p>Sedangkan untuk UX\u00a0<i>flow<\/i>\u00a0kamu bisa menggunakan\u00a0<i>platform\u00a0<\/i>online seperti\u00a0<i>Whimsical.\u00a0<\/i>Di sini telah disediakan fitur yang mempermudah kamu dalam urusan perancangan sebelum diimplementasikan oleh UI designer berupa\u00a0<i>flowchart<\/i>,\u00a0<i>mind maps,\u00a0<\/i>dan juga\u00a0<i>wireframes.<\/i>\u00a0Kamu bisa pelajari lebih lanjut di internet.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2>5 .Mencari Banyak Sumber Referensi<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-11422 size-full\" src=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-referensi.png\" sizes=\"auto, (max-width: 626px) 100vw, 626px\" srcset=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-referensi.png 626w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-referensi-300x240.png 300w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-referensi-370x296.png 370w\" alt=\"ui ux adalah\" width=\"626\" height=\"500\" \/><\/p>\n<p>Sebagai UI UX\u00a0<i>designer\u00a0<\/i>kamu mesti banyak-banyak mencari sumber referensi. Seseorang yang mengembangkan desain harus banyak belajar juga dari sumber-sumber seperti buku,\u00a0<i>website, Youtube,\u00a0<\/i>dan lain sebagainya. Saya kasih saran lagi deh biar bisa\u00a0<i>sharing\u00a0<\/i>ilmu bukan maksud mengajarkan.<\/p>\n<p>Jika kamu sedikit kebingungan mencari sumber inspirasi desain, kamu bisa kunjungi website\u00a0<i>dribble\u00a0<\/i>search aja di Google pasti ada kok. Hal ini bisa lebih membantumu menemukan ide untuk membuat sebuah desain\u00a0<i>website<\/i>\u00a0maupun aplikasi\u00a0<i>mobile<\/i>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2>6.Mulailah Untuk Bergabung dengan Suatu Komunitas<\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-11420 size-full\" src=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-comunity.png\" sizes=\"auto, (max-width: 626px) 100vw, 626px\" srcset=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-comunity.png 626w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-comunity-300x200.png 300w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-comunity-370x246.png 370w\" alt=\"apa itu ui dan ux\" width=\"626\" height=\"417\" \/><\/p>\n<p>Bergabunglah dengan komunitas baik itu berupa grup member, forum\u00a0<i>Facebook,<\/i>\u00a0ataupun lainnya.<\/p>\n<p>Selain menambah teman-teman baru, kamu juga dapat bertukar pikiran dengan mendalami bidang profesi yang sama. Untuk menjadi seseorang yang handal di bidangnya, mengapa kita perlu menambah relasi? Menambah ilmu baru yang didapat dari teman-teman ibarat sebuah pepatah yang mengatakan \u201cJadikan Setiap Tempat Sebagai Sekolah, Jadikan Setiap Orang Sebagai Guru\u201d (Ki Hadjar Dewantara).<\/p>\n<p>Hal tersebut yang mendorong kamu untuk lebih berkembang dan menjadikanmu seorang UI UX\u00a0<i>designer<\/i>\u00a0dan banyak dikenal disekitarmu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2>7.Mengikuti Update Mengenai Design <i>Trending<\/i><\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-11423\" src=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-uiux.png\" sizes=\"auto, (max-width: 845px) 100vw, 845px\" srcset=\"https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-uiux.png 845w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-uiux-300x216.png 300w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-uiux-768x552.png 768w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-uiux-370x266.png 370w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-uiux-770x553.png 770w, https:\/\/www.dicoding.com\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/04\/intern-rendi-uiux-70x50.png 70w\" alt=\"ui ux\" width=\"845\" height=\"607\" \/><\/p>\n<p>Hal ini wajib diperhatikan oleh para calon UI UX\u00a0Designer\u00a0karena perkembangan desain tidak pernah ada hentinya. Desain yang baik yaitu desain yang selalu menyesuaikan dengan kebutuhan sekarang. Jadi agar terhindar dari kata kuno kamu harus selalu mengikuti perkembangan desain. Karena sebagai\u00a0<i>client\u00a0<\/i>atau pengguna mereka selalu membutuhkan sesuatu hal yang sifatnya kekinian atau\u00a0<i>trending.<\/i><\/p>\n<p>Kesimpulannya, poin- poin diatas merupakan langkah untuk mengantarkanmu menjadi seorang UI UX Designer. Maka dari itu perbanyaklah latihan dengan membuat suatu project sederhana. Carilah banyak referensi untuk belajar, gunakan tools yang menurutmu efektif dan efisien, bergabunglah dengan komunitas atau cari mentor serta selalu mengikuti perkembangan desain.<\/p>\n<p>Sekian yang dapat disampaikan. Jangan lupa beri komentar mengenai UI UX\u00a0<em>design.\u00a0<\/em>Terima kasih.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kata UI UX pasti sering kamu dengar, apalagi ketika kamu membuka portal <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/rengga.dev\/blog\/7-langkah-awal-menjadi-seorang-ui-ux-designer\/\" title=\"7 Langkah Awal Menjadi Seorang UI UX Designer\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3950,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,654,16,2],"tags":[188,186,187],"newstopic":[656,657,655],"class_list":{"0":"post-2770","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-adobe-xd","8":"category-figma","9":"category-ui-ux","10":"category-web-design","11":"tag-langkah-menjadi-ui-ux-designer","12":"tag-ui-design","13":"tag-ux-design","14":"newstopic-adobe-xd","15":"newstopic-figma","16":"newstopic-ui-ux"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2770","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2770"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2770\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2772,"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2770\/revisions\/2772"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3950"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2770"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2770"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2770"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/rengga.dev\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=2770"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}